BAB II
TEKNIK MENULIS KARYA ILMIAH
2.1 Pengertian Karya Ilmiah
Karya ilmiah merupakan karya
tulis yang isinya berusaha memaparkan suatu pembahasan secara ilmiah
yang dilakukan oleh seorang penulis atau peneliti. Untuk memberitahukan
sesuatu hal secara logis dan sistematis kepada para pembaca. Karya
ilmiah biasanya ditulis untuk mencari jawaban mengenai sesuatu hal dan
untuk membuktikan kebenaran tentang sesuatu yang terdapat dalam objek
tulisan. Maka sudah selayaknyalah, jika tulisan ilmiah sering mengangkat
tema seputar hal-hal yang baru (aktual) dan belum pernah ditulis orang
lain. Jika pun, tulisan tersebut sudah pernah ditulis dengan tema yang
sama, tujuannya adalah sebagai upaya pengembangan dari tema terdahulu.
Disebut juga dengan penelitian lanjutan.
Tradisi keilmuan menuntut para
calon ilmuan (mahasiswa) bukan sekadar menjadi penerima ilmu. Akan
tetapi sekaligus sebagai pemberi (penyumbang) ilmu. Dengan demikian,
tugas kaum intelektual dan cendikiawan tidak hanya dapat membaca, tetapi
juga harus dapat menulis tentang tulisan-tulisan ilmiah. Apalagi bagi
seorang mahasiswa sebagai calon ilmuan harus menguasai tata cara
menyusun karya ilmiah. Ini tidak terbatas pada teknik, tetapi juga
praktik penulisannya. Kaum intelektual jangan hanya pintar bicara dan
“menyanyi” saja, tetapi juga harus gemar dan pintar menulis.
Istilah karya ilmiah di sini
adalah mengacu kepada karya tulis yang penyusunan dan penyajiannya
didasarkan pada kajian ilmiah dan cara kerja ilmiah. Dilihat dari
panjang pendeknya atau kedalaman uraian, karya tulis ilmiah dibedakan
atas makalah (paper) dan laporan penelitian. Dalam penulisan, baik
makalah maupun laporan penelitian, didasarkan pada kajian ilmiah dan
cara kerja ilmiah. Penyusunan dan penyajian karya semacam itu didahului
oleh studi pustaka dan studi lapangan (Azwardi, 2008:111).
Sementara
itu, Yamilah dan Samsoerizal (1994:90) memaparkan bahwa ragam karya
ilmiah terdiri atas beberapa jenis berdasarkan fungsinya. Menurut
pengelompokan itu, dikenal ragam karya ilmiah seperti; makalah, skripsi,
tesis, dan disertasi.
2.2 Sikap Ilmiah
Ada tujuh sikap ilmiah yang harus
dimiliki oleh setiap penulis atau peneliti berdasarkan pendapat
Istarani (2009:4) yaitu: sikap ingin tahu, sikap kritis, sikap terbuka,
sikap objektif, sikap menghargai karya orang lain, sikap berani
mempertahankan kebenaran, dan sikap menjangkau ke depan.
2.3 Ciri-Ciri Karya Ilmiah
Karangan ilmiah adalah karangan
yang berisi argumentasi penalaran keilmuan yang dikomunikasikan melalui
bahasa tulis yang formal dengan sistematis-methodis. Karangan ilmiah
bersifat sistematis dan tidak emosional. Dalam karya ilmiah disajikan
kebenaran fakta.
Ciri-ciri karya ilmiah menurut
Alamsyah (2008:99) adalah sebagai berikut: (1) merupakan pembahasan
suatu hasil penelitian (faktual objektif ). Artinya, faktanya sesuai
dengan yang diteliti, (2) bersifat methodis dan sistematis. Artinya,
dalam pembahasan masalah digunakan metode tertentu dengan
langkah-langkah yang teratur dan terkontrol secara tertip dan rapi, (3)
tulisan ilmiah menggunakan laras ilmiah. Artinya, laras bahasa ilmiah
harus baku dan formal. Selain itu laras ilmiah harus lugas agar tidak
ambigu (ganda).
2.4 Manfaat Penulisan Karya Ilmiah
Ada beberapa manfaat penulisan
karya ilmiah adalah sebagai berikut: (1) penulis akan terlatih
mengembangkan keterampilan membaca yang efektif, karena sebelum menulis
karya ilmiah, penulis harus membaca dulu, (2) penulis akan terlatih
menggabungkan hasil bacaan dari berbagai sumber dan mengembangkan ke
tingkat pemikiran yang lebih matang, (3) penulis akan terasa akrab
dengan kegiatan perpustakaan, seperti bahan bacaan dalam katalog
pengarang atau katalog judul buku, (4) penulis akan dapat meningkatkan
keterampilan dalam mengorganisasikan dan menyajikan fakta secara jelas
dan sistematis, (5) penulis akan memperoleh kepuasan intelektual, dan
(5) penulis turut memperluas cakrawala ilmu pengetahuan masyarakat
(Istarani, 2009:5).
Selain itu, dengan karya ilmiah
penulis juga telah ikut serta dalam usaha pengembangan ilmu pengetahuan
dan teknologi (iptek) melalui karya tulis yang dihasilkannya. Dengan
demikian para penulis dan peneliti telah memberikan royalti (masukan)
yang berguna bagi pengembangan iptek itu sendiri. Sehingga karya ilmiah
tersebut dapat dibaca dan bermanfaat bagi para mahasiswa, intelektual,
pendidik (guru dan dosen), dan bagi masyarakat umum.
2.5 Prinsip-Prinsip Penulisan Karya Ilmiah
Prinsip-prinsip umum yang mendasari penulisan sebuah karya ilmiah adalah:
1. Objektif, artinya setiap
pernyataan ilmiah dalam karyanya harus didasarkan kepada data dan fakta.
Kegiatan ini disebut studi empiris. Objektif dan empiris merupakan dua
hal yang bertautan.
2. Prosedur atau penyimpulan penemuannya melalui penalaran induktif dan deduktif.
3. Rasio dalam pembahasan data.
Seorang penulis karya ilmiah dalam menganalisis data harus menggunakan
pengalaman dan pikiran secara logis.
2.6 Tema Karya Ilmiah
Dalam menulis karya ilmiah,
penulis hendaklah mengangkat tema-tema yang aktual dan bukan suatu tema
yang sudah basi dan kusam. Sehingga karya tulis yang dihasilkan lebih
berbobot dan mendapat sambutan yang baik dari pembaca. Sebagian penulis
kadang kala mengangkat tema yang kurang penting yang hanya menjadi
sebuah tulisan yang mubazir. Selain itu, ada sebagian penulis ilmiah
hanya bertindak sebagai seorang penulis plagiator atau diistilahkan
dengan penulis “ceplakan atau sarjana foto kopi, julukan bagi mahasiswa
yang skripsinya diupahkan pada tukang buat skripsi”.
Mengenai tema Walija (1996:19-20)
memaparkan bahwa kata ‘tema’ diserap dari bahasa Inggris theme yang
berarti ‘pokok pikiran’. Kata theme itu sendiri berasal dari bahasa
Yunani, tithenai, yang berarti; meletakkan atau menempatkan. Tema sebuah
karangan merupakan ide dasar atau ide pokok sebuah tulisan. Biasanya
tema tidak dapat dilihat dengan kasat mata dalam sebuah karangan, karena
bukan terdapat dalam sebuah kalimat yang utuh, tetapi tema merupakan
cerminan dari keseluruhan isi karangan dari awal sampai akhir. Tema
merupakan amanat atau pesan-pesan yang dapat dipetik dari karangan.
Rumusan dari simpulan yang berupa pesan-pesan pengarang itulah yang
disebut tema.
Sebuah tema yang baik adalah
harus menarik perhatian penulis sendiri. Apabila penulis senang dengan
pokok pembicaraan yang ingin dikarang tentu seorang pengarang dalam
keadaan senang atau tidak dalam keadaan terpaksa. Selain menarik
perhatian, tema yang hendak ditulis terpahami dengan baik oleh penulis.
Selain tema dalam setiap tulisan
ilmiah juga harus memiliki topik. Ada sebagian orang menyamakan antara
topik dengan tema. Ternyata pendapat itu keliru. Topik adalah pokok
pembicaraan yang ingin disampaikan dalam karangan.
Rambu-rambu yang harus diketahui
dan dipahami oleh seorang penulis untuk menentukan dan memilih topik
yang baik adalah sebagai berikut:
(1) Topik sebaiknya aktual.
(2) Topik sebaiknya berasal dari dunia atau bidang kehidupan yang akrab dengan penulis.
(3) Topik sebaiknya memiliki nilai tambah atau memiliki arti yang penting, baik bagi penulis sendiri atau bagi orang lain.
(4) Topik sebaiknya selaras dengan tujuan pengarang dan selaras dengan calon pembaca.
(5) Topik sebaiknya asli, bukan pengulangan atas hal yang sama yang pernah disajikan oleh orang lain.
(6) Topik sebaiknya tidak menyulitkan pencarian data, bahan, dan informasi lain yang diperlukan.
2.7 Tahapan Umum Penulisan Karya Ilmiah
Tahap persiapan mencakup kegiatan
menemukan masalah atau mengajukan masalah yang akan dibahas dalam
penelitian. Masalah yang ditemukan itu didukung oleh latar belakang,
identifikasi masalah, batasan, dan rumusan masalah. Langkah berikutnya
mengembangkan kerangka pemikiran yang berupa kajian teoritis.
Langkah selanjutnya adalah
mengajukan hipotesis atau jawaban atau dugaan sementara atas penelitian
yang akan dilakukan. Metodologi dalam tahap persiapan penulisan karya
ilmiah juga diperlukan. Metodologi mencakup berbagai teknik yang
dilakukan dalam pengambilan data, teknik pengukuran, dan teknik analisis
data. Kemudian tahap penulisan merupakan perwujudan tahap persiapan
ditambah dengan pembahasan yang dilakukan selama dan setelah penulisan
selesai. Terakhir adalah tahap penyuntingan dilakukan setelah proses
penulisan dianggap selesai.
2.8 Bahasa Karya Ilmiah
Bahasa memegang peranan penting
dalam penulisan karya ilmiah. Oleh sebab itu pemahaman tentang diksi
(pilihan kata atau seleksi kata, bahasa Inggris; diction), istilah,
kalimat, penyusunan paragraf, dan penalaran yang diungkapkan harus
dikuasai peneliti. Selain itu, penulisan karya ilmiah harus mengacu pada
Pedoman Umum Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan dan sesuai dengan
penggunaan bahasa Indonesia yang baku. Dengan demikian, gaya penulisan
karya ilmiah hendaknya memiliki kejelasan, reproduktif, dan impersonal.
Di sisi lain, bahasa merupakan
alat yang cukup penting dalam karangan ilmiah. Langkah pertama dalam
menulis karya ilmiah yang baik adalah menggunakan tata bahasa yang benar
(Suriasumantri, 1986:58). Apabila bahasa kurang cermat dipakai,
karangan bukan saja sukar di pahami, melainkan juga mudah menimbulkan
salah pengertian. Bahasa karangan yang kacau menggambarkan kekacauan
pikiran penulis (Surakhmat dalam Finoza, 2006:215).
Dalam menulis karya ilmiah
penulis juga diharapkan mampu menggunakan bahasa secara cermat. Sajikan
ide-ide secara urut sehingga pokok-pokok pikiran dan konsep tersusun
secara koheren. Gunakan ungkapan yang ekonomis sehingga tidak terjadi
pengulangan ide atau penggunaan kata-kata yang berlebihan. Selain itu,
gunakan ungkapan halus (smooth), agar pembaca dapat mengikuti alur
pembahasan dengan mudah. Gaya kalimat jangan seperti puitis dan
perhatikan penulisan secara benar dan baku.
2.9 Penggunaan Bahasa dalam Karya Ilmiah
Dalam penggunaan bahasa terdapat
beberapa ragam bahasa. Sugono (1999:10) berpendapat bahwa berdasarkan
pokok persoalan yang dibicarakan, ragam bahasa dapat dibedakan atas
bidang-bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, seperti ragam bahasa
hukum, ragam bahasa niaga, ragam bahasa sastra, dan ragam bahasa
jurnalistik.
Yamilah dan Samsoerizal (1994:10)
mengklasifikasikan ragam bahasa dengan nama istilah ragam fungsiolek.
Ragam fungsiolek adalah ragam berdasarkan sikap penutur mencakup daya
ucap secara khas. Ragam ini digunakan antara lain dalam kegiatan:
kesehatan, susastra, olahraga, jurnalistik, lingkungan, dan karya
ilmiah. Setiap bidang tersebut menampakkan ciri tersendiri dalam
pengungkapannya. Bahasa ragam karya ilmiah memiliki karakteristik
tersendiri yaitu : singkat, padat, sederhana, lugas, lancar, dan
menarik.
Selain itu, gaya penulisan karya
ilmiah hendaknya memiliki kejelasan, reproduktif, dan impersonal.
Kejelasan dimaksudkan bahwa setiap karya ilmiah harus mampu menyampaikan
informasi kepada pembaca tentang objek penelitiannya secara gamblang.
Kegamblangan ini dibicarakan sebagai foto kopi dari aslinya. Inilah yang
dimaksud dengan reproduktif. Sedangkan impersonal berarti peniadaan
kata ganti perorangan seperti: saya atau peneliti. Misalnya: Adapun
masalah yang akan diteliti mencakup, pengkajian, perencanaan,
pelaksanaan, dan penelitian. Pada posisi kata impersonal “diteliti”
tidak boleh menggunakan kata saya atau peneliti.
2.10 Tertib Mengutip
Dalam tradisi mengarang ilmiah
berlaku mengutip pendapat orang lain. Karya ilmiah pada umumnya
merupakan hasil pengamatan atau penelitian yang merupakan lanjutan dari
penelitian yang terdahulu. Dengan kata lain, hasil-hasil penelitian
orang lain, pendapat ahli, baik yang dilisankan maupun yang dituliskan
dapat digunakan sebagai rujukan untuk memperkuat uraian atau untuk
membuktikan apa yang dibentangkan (Walija, 1996:125). Dalam dunia tulis
menulis ilmiah ada dua macam jenis kutipan, yaitu: kutipan langsung dan
kutipan tidak langsung. Kutipan langsung dalam pengutipannya harus
diberi tanda kutip (“… “). Sedangkan kutipan tidak langsung tidak
diberikan tanda kutip. Namun, kutipan langsung maupun kutipan tidak
langsung dalam tertib mengutip harus diberikan tanda dengan catatan kaki
(footnotes).
Catatan kaki adalah semua
kegiatan yang berkaitan dengan uraian (teks) yang ditulis di bagian
bawah halaman yang sama. Apabila keterangan semacam ini disusun dibagian
akhir karangan biasanya disebut keterangan saja. Catatan kaki bukan
hanya untuk menunjukkan sumber kutipan, melainkan juga dipergunakan
untuk memberikan keterangan tambahan terhadap uraian atau teks.
Ada beberapa prinsip mengutip,
yaitu: (1) tidak mengadakan perubahan, (2) memberitahu bila sumber
kutipan mengandung kesalahan, (3) memberitahu bila melakukan perbaikan,
dan (4) memberitahu bila menghilangkan bagian-bagian tertentu yang ada
didalam kutipan.
2.11 Daftar Pustaka
Daftar pustaka merupakan daftar
sejumlah buku acuan atau referensi yang menjadi bahan utama dalam suatu
tulisan ilmiah. Selain buku, majalah, surat kabar, catatan harian, dan
hasil pemikiran ilmuan juga dapat dijadikan sebagai referensi dalam
menulis. Walija (1996:149) mengatakan bahwa daftar pustaka atau
bibliografi adalah daftar buku atau sumber acuan lain yang mendasari
atau menjadi bahan pertimbangan dalam penyusunan karangan. Unsur-unsur
pada daftar pustaka hampir sama dengan catatan kaki. Perbedaannya hanya
pada daftar pustaka tiada nomor halaman.
Unsur-unsur pokok daftar pustaka adalah sebagai berikut:
A. Buku sebagai Bahan Referensi
1) Nama pengarang, diurutkan
berdasarkan huruf abjad (alfabetis). Jika nama pengarang lebih dari dua
penggal nama terakhir didahulukan atau dibalik.
2) Tahun terbit buku, didahulukan tahun yang lebih awal jika buku dikarang oleh penulis yang sama.
3) Judul buku, dimiringkan tulisannya atau digaris bawahi.
4) Data publikasi, penerbit, dan tempat terbit.
5) DAFTAR PUSTAKA ditulis dengan huruf kapital semua dan menempati posisi paling atas pada halaman yang terpisah.
Contoh penulisan daftar pustaka buku sebagai referensi:
Hamdani. 2011. Cerdas Berbahasa Indonesia. Lhokseumawe: Unimal Press.
Ismail, Taufiq. 1993. Tirani dan Benteng. Jakarta: Yayasan Ananda.
Mulya, Hamdani. 2010. Bahasa Indonesia untuk Perguruan Tinggi. Lhokseumawe: STAIN Malikussaleh.
Namun, jika bahan rujukan atau
acuan dalam daftar pustaka yang bersumber dari internet ditulis sesuai
dengan aturannya tersendiri berdasarkan pendapat Alamsyah (2008:119)
sebagai berikut:
B. Rujukan dari Internet Berupa Artikel dari Jurnal
Nama penulis ditulis seperti
rujukan dari bahan cetak, diikuti oleh tahun, judul karya (dicetak
miring) dengan diberikan keterangan dalam kurung (Online), volume dan
nomor, dan diakhiri dengan alamat sumber rujukan tersebut disertai
dengan keterangan kapan diakses, di antara tanda kurung.
Contoh:
Kumaidi. 1998. Pengukuran Bekal
Awal Belajar dan Pengembangan Tesnya. Jurnal Ilmu Pendidikan, (Online),
jilid 5, No 4, (http://www.malang.ac.id, diakses 20 Januari 2000).
C. Rujukan dari Internet Berupa E-mail Pribadi
Nama pengirim (jika ada) disertai
keterangan dalam kurung (alamat e-mail pengirim), diikuti oleh tanggal,
bulan, tahun, topik isi bahan (dicetak miring), nama yang dikirimi
disertai keterangan dalam kurung (alamat e-mail yang dikirim).
Contoh: 1
Davis, A. (a.davis @uwts.edu.au).
10 Juni 1996. Learning to Use Web Authoring Tolls. Email kepada Alison
Hunter (huntera @usq.edu.au).
Contoh: 2
Mulya, Hamdani. (mulyahamdani
@yahoo.com). 15 Oktober 2009. Teknik Menulis Karya Ilmiah. Email kepada
Redaktur Majalah Santunan Jadid (redaksisantunan @gmail.com).
2.12 Contoh Format Umum Karya Ilmiah
Dalam tulisan ini disajikan
contoh format umum skripsi mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia. Format
karya ilmiah lazim juga disebut sebagai kerangka karya ilmiah.
- See more at: http://hamdanimulya.blogspot.co.id/2009/07/bahasa-indonesia-untuk-perguruan-tinggi.html#sthash.szC6yDYB.dpuf


Tidak ada komentar:
Posting Komentar